Selasa, 23 Oktober 2012

Story Part 1


It was 2005 when I figured it out . My parents kept on fighting while I was a child . Maybe they never really thought about my feeling at all . I was just an ordinary girl . Really .. You all would know how a third grade junior high school behaved . I was still innocent , didn’t know what was right and what was wrong . But times goes by really fast . And here I am . A 20 year old women I guess . I still don’t know either I am a women now or still a kid . I am a collage student . Right now I am in my 5th semester . Still 3 semesters to go and I am hoping that it will over soon .
I have something in my mind . I want to get a job now and earn money for myself . Really wanna be indepentdent but it’s kinda hard . Wanna have a job but I always thinking ‘how would I get a job ?’ ‘what if I can’t watch football matches again after I get a job ?’ Those thought really get into my mind . Having a job and earn my own money , it would be great . I can buy anything that I want with my own money . Don’t have to ask for it and no need to asking permission anymore .
That is my current life . You must be happy cause your lifes are easier than me . Going to England and stay there forever would be my ideal dream . Getting a foreigner husband would be perfect too . I wanna a footballer partner for the rest of my life . I know that it’s not as easy as I thought but everyone have the right to dream right ?
Now it’s about my dreams . I have so many dreams . Even I wouldn’t want to write them down . The most important thing is getting my parents back together if I can . Wanna take them go around the world . Maybe it won’t be easy to get them back together . My mom , she is kinda change a lot . Really different with what I knew about her before . She even believing somekind of black magic I guess . She asked me and my little brother to take a bath with flowers in the water . Seriously , it’s a cemetery flowers . Wouldn’t you think something weird about that ?
Once I was doing it because she kept on pushing me to do it . But I didn’t even believe it . I have a religion and my own Lord . So there’s no way I would do something weird like that . Okay , stop with this unpleasant statement about my mom . I don’t even want to think about it anymore .
Now , back to my dreams . Go to UK and become UK’s civil would be amazing . Living in West London , near Chelsea Football Club traning ground or even Stamford Bridge . Getting to know the players like Gigi Salmon . Really envy her so much .. When she was hosting Chelsea Spanish Quartet show , it felt like ‘oh my God , I hope I was her’ . Seriously , meeting with Cesar ‘Dave’ Azpilicueta , Juan Mata , Oriol Romeu and my beloved footballer Fernando Torres . Having a chit-chat with them will be perfect . My heart started to pound after I saw Dave’s smile for the first time . I thought he was really cute , wasn’t he ?
Okay , stop being envious with Gigi Salmon . I will make my dream come true . Amennn !!
It’s about my most favorite football club all the time . Chelsea Football Club .
I like Chelsea because Michael Ballack at first but now it has changed . I remember this .. Germany crashed UEA with 11 goals . And I started to think that the amount of goals were same with the players . I started to watch football matches . It was World Cup 2006 . Then I liked Germany and loved Ballack the most . Started to look for Ballack and found out that he played for Chelsea . Watched Chelsea played all the time and cried when found out that EPL won’t be broadcasted in Indonesia anymore . Looking for a way to watch it . Then Astro have the right of broadcasting . Became astro customer for 2 years and it’s over . BPL started to be broadcast again on MNC . Really glad !!
Begin to watch it continuously , laugh , cry when Chelsea lost and won . Really felt what they felt at that time they lost and won . Cried a lot when I watched final UCL 2012 . Won for the first time in UCL . ABSOLUTELY AMAZING !!
Started the new season 2012/2013 , lost at Community Shield and Super Cup . Not really disappointed . Chelsea started the season very well . 8 matches 22 points and still UNBEATEN . Top of the league and just dropped 2 points so far . Never lost at London derby this season . Drew against QPR at Loftus Road , won against Arsenal at Emirates Stadium and the last one , won against AVB’s men a.k.a. Tottenham Hotspurs at White Hart Lane . Super Glad !!
Chelsea played with a new way . More attacking and there’s no parking bus . Roberto Di Matteo is Chelsea’s manager . He’s the one that brought Chelsea to Double Winner in 2011/2012 with FA Cup and UCL . With a 4-2-3-1 formation , Chelsea played a beautiful football . Not boring to watch . Cech in the goal , Ashley Cole in the left back , Luiz-Terry as centre back , Ivanovic in the right back , Ramires-Mikel as the defensive midfielders , Juan Mata-Oscar-Eden Hazard as the attacking midfielders and Fernando Torres as the only striker . With Turnbull , Azpi , Cahill , Lamps , Moses , Sturridge , Marin and everybody else available for the bench .
Chelsea is the only stuff that make my real life so much fun . Keep on supporting Chelsea is the only way to be happier . This season , there will be many expectation from the fans . Winning the BPL title again , win FA Cup and COC , winning the Club World Cup and become the first club ever that win UCL twice in a row . Ameeennnn !!
This is how my life become much happier , greater after all of those terrible stuff . Will be back with a new story and maybe I will keep on saying about Chelsea . But I have another thing that make me feel stronger . Will tell you guys later if I have time and remember . J

Metode Riset : Latar Belakang Masalah


Dunia perbankan saat ini banyak diwarnai oleh berbagai produk baru disamping produk-produk investasi
konvensional yang telah ada. Saat ini begitu banyak bentuk investasi yang ditawarkan pada masyarakat. Terdapat
manajemen dana nasabah yang dikenal dengan sebutan reksadana, asuransi, manajemen asset, lembaga
pengelolaan investasi saham dan mata uang asing. Produk-produk ini sebenarnya merupakan derivatif dari produk
perbankan lama dan merupakan pengembangan dari tugas yang dibebankan oleh kedua Undang Undang itu. Jasa
keuangan semacam ini terbilang unik karena memiliki karakteristik yang unik dibandingkan dengan produk lain.
Elemen-elemen yang abstrak turut mewarnai hubungan antara konsumen dalam hal ini nasabah dengan pihak bank
Dalam produk yang mengandalkan hubungan antara konsumen dan penyedia jasa maka kepercayaan menjadi hal
yang mendasar bagi kinerja bank dan sangat menentukan kelangsungan usaha bank yang bersangkutan .
Seiring dengan semakin bervariasinya tawaran produk-produk jasa keuangan di pasar maka saat ini
terdapat kecenderungan bahwa deposito atau tabungan tidak lagi menjadi produk investasi satu-satunya bagi
konsumen yang memiliki kelebihan dana dan menginginkan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasinya.
Kecenderungan ini menggambarkan kompleksitas konsumen dalam pengambilan keputusan dalam produk jasa
investasi karena keputusan investasi merupakan keputusan diantara risiko dan keuntungan atau dengan kata lain
terdapat imbangan antara kenyataannya bahwa makin besar resiko juga makin besar juga hasil bunganya.
Produk investasi merupakan salah satu produk yang memiliki risiko tersendiri . Sementara di pihak lain,
proses keputusan konsumen tidak semata-mata ditentukan oleh harga atau hasil dari produk itu saja. Terdapat pula
aspek-aspek lain dari produk yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam proses pengambilan keputusannya.
Penelitian ini bermaksud untuk menemukan atribut produk yang dipertimbangkan nasabah dalam memilih deposito
sebagai produk yang ditawarkan oleh perbankan sebagai bentuk investasi dan pengaruhnya terhadap kepercayaan
dan loyalitas nasabah.


Salah satu sarana bagi konsumen untuk menilai keandalan dan integritas patner dalam pertukaran
adalah atribut produk. Menurut Kotler dan Armstrong atribut produk bertugas untuk mengkomunikasikan dan
menghantarkan manfaat inti (core benefit) yang ingin disampaikan produk kepada konsumen. Beberapa atribut
yang terkandung biasanya memiliki perbedaan dengan produk-produk yang sejenis. Mungkin dalam hal nama
merek ( deposito dan bank penerbitnya ), harga yang lebih mahal atau murah, kemasan yang lebih menarik, atau
komposisi yang berbeda (Ferrinadewi dan Darmawan, 2004). Atribut produk merupakan sesuatu yang dinilai oleh
konsumen dalam menentukan relevansi dirinya dengan produk. Oleh karena itu, bertanya kepada konsumen atribut
mana yang dianggap penting merupakan cara yang tepat untuk mengetahui pertimbangan keputusan pembelian
konsumen (Oliver, 1997).

Metode Riset : Tema "Pengaruh berbagai produk bank terhadap nasabah"

Banyaknya bank mengakibatkan persaingan antar bank dalam
menghimpun dana masyarakat sebanyak-banyaknya ditempuh melalui
bermacam-macam cara, antara lain dengan mengeluarkan jenis-jenis tabungan
baru yang dilengkapi dengan sejumlah atribut yang dapat merangsang minat
masyarakat untuk menabung. Misalnya tabungan dengan bunga dihitung
berdasar saldo harian yang diakumulasikan setiap akhir tahun (tabungan bunga
harian), tabungan yang memberikan hadiah dengan undian setiap beberapa
bulan sekali (tabungan berhadiah) dan lain-lain.
Alasan/motif seseorang dalam menabung secara umum, misalnya
karena:
1. Orang menabung untuk persiapan hari tuanya dan akan menggunakannya
kembali selama masa pensiun, di samping itu juga untuk mewariskan
kekayaannya pada turunannya.
2. Orang menabung karena ada kelebihan pendapatan setelah digunakan
untuk belanja barang dan jasa.
3. Motif spekulasi dengan jaminan untuk memperoleh keuntungan karena
adanya perubahan tingkat suku bunga di masa mendatang.
4. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap nilai rupiah sehingga
orang tidak lagi menanamkan uangnya dalam bentuk dollar di luar negeri.

Metode Riset : Jurnal 3

Judul : PENGARUH PRODUK TABUNGAN TERHADAP
KEPUTUSAN MENABUNG
Pengarang : HERU SULISTYO
Tahun : 2008

Dalam rangka meningkatkan peranan perbankan untuk menunjang
usaha pembangunan, pemerintah mengeluarkan paket kebijaksanaan 27
Oktober 1988, yaitu kebijaksanaan deregulasi di bidang perbankan yang
merupakan langkah lanjutan dan penyempurnaan deregulasi 1 Juni 1983.
Kemudian pada tanggal 20 Desember 1988 pemerintah mengeluarkan paket
kebijaksanaan baru yang dikenal dengan Pakdes 20 yang merupakan
kelanjutan dari kemudahan-kemudahan di bidang perbankan yang diberikan
dalam paket 27 Oktober 1988.
Dampak kebijaksanaan 27 Oktober 1988 dan paket kebijaksanaan 20
Desember 1988 tersebut adalah munculnya bank-bank baru di Indonesia,
karena persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendirikan sebuah bank
semakin ringan. Namun ketika Indonesia mulai mengalami krisis moneter dan
krisis ekonomi pada tahun 1998, tidak sedikit bank yang harus dilikuidasi
karena tidak sehat. Tetapi ada beberapa bank yang kondisinya tidak sehat
melakukan merger menjadi bank baru. Meskipun demikian saat ini masih
banyak bank yang masih beroperasi di Indonesia, termasuk di Surakarta.
Banyaknya bank tersebut mengakibatkan persaingan antar bank dalam
menghimpun dana masyarakat sebanyak-banyaknya ditempuh melalui
bermacam-macam cara, antara lain dengan mengeluarkan jenis-jenis tabungan
baru yang dilengkapi dengan sejumlah atribut yang dapat merangsang minat
masyarakat untuk menabung. Misalnya tabungan dengan bunga dihitung
berdasar saldo harian yang diakumulasikan setiap akhir tahun (tabungan bunga
harian), tabungan yang memberikan hadiah dengan undian setiap beberapa
bulan sekali (tabungan berhadiah) dan lain-lain.
Alasan/motif seseorang dalam menabung secara umum, misalnya
karena:
1. Orang menabung untuk persiapan hari tuanya dan akan menggunakannya
kembali selama masa pensiun, di samping itu juga untuk mewariskan
kekayaannya pada turunannya.
2. Orang menabung karena ada kelebihan pendapatan setelah digunakan
untuk belanja barang dan jasa.
3. Motif spekulasi dengan jaminan untuk memperoleh keuntungan karena
adanya perubahan tingkat suku bunga di masa mendatang.
4. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap nilai rupiah sehingga
orang tidak lagi menanamkan uangnya dalam bentuk dollar di luar negeri.

Ternyata dengan munculnya jenis-jenis tabungan baru itu, motif/tujuan
orang menabung tidak hanya alasan-alasan seperti yang telah disebutkan di
atas, tetapi juga karena untuk mendapatkan hadiah, karena mengikuti mode
dan lain-lain. Meskipun hal ini menunjukkan respon yang positif dari
masyarakat.
Faktor-faktor yang menentukan keputusan seseorang dalam memilih
bank sebagai tempat menabung sangat tergantung pada atribut-atribut yang
melekat pada bank itu, seperti pelayanan karyawan, lokasi, suku bunga, iklan
yang menarik, hadiah yang diberikan, frekuensi penyaringan hadiah,
bonafiditas bank, kepercayaan masyarakat dan lain-lain. Atribut dari bank itu
sebenarnya meliputi 4 bidang, yang dalam masyarakat pemasaran dikenal
sebagai marketing mix atau bagian pemasaran yang meliputi produk, harga,
tempat dan promosi.
Banyaknya jumlah bank yang menawarkan jenis-jenis tabungan baru
dengan serangkaian atribut yang melekat itu menyebabkan persaingan antar
bank untuk menarik nasabah semakin meningkat dan upaya yang ditempuh
bank-bank itupun bermacam-macam, karena itu nasabah bank saat ini
dihadapkan pada berbagai pilihan bank yang menawarkan bermacam-macam
atribut yang memikat.

Metode Penelitian

Melakukan riset dan analisis terhadap setiap produk tabungan yang ada di bank .

source : http://gubuk-biru.blogspot.com/2011/06/download-jurnal-ekonomi-dan-perbankan.html

Metode Riset : Jurnal 2

Judul : PENGARUH PRODUK TABUNGAN TERHADAP
KEPUTUSAN MENABUNG
Pengarang : HERU SULISTYO
Tahun : 2008


Perbankan merupakan bagian integral dari sistem perekonomian modern
yang memiliki posisi strategis sebagai lembaga intermediasi, yaitu
mengerahkan dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana-dana
tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya serta penunjang sistem
pembayaran. Sektor perbankan dapat dikatakan sebagai motor penggerak
perekonomian yaitu sebagai lembaga penyuntik dana dalam mendukung dan
menopang aktivitas-aktivitas ekonomi rakyat.
Pengakuan akan pentingnya marketing perbankan semakin meningkat
apalagi sejak dikeluarkannya beberapa paket kebijakan deregulasi perbankan
oleh pemerintah. Ditambah pula semenjak suku bunga simpanan tidak dapat
lagi menjadi “senjata” satu-satunya untuk menarik dana dari masyarakat
sehingga sektor perbankan dituntut untuk berbuat seperti halnya bank-bank di
luar negeri, yaitu memberikan kepada nasabah berbagai peningkatan kualitas
pelayanan, perluasan berbagai jenis jasa bank dan menciptakan serta
menggunakan berbagai instrumen baru yang memungkinkan bank menggali
dana dari masyarakat. Konsep pemasaran yang berorientasi kepada
kepentingan serta kepuasan nasabah/konsumen tanpa melupakan tujuan bank
untuk mendapatkan laba dalam jangka panjang. Hal ini harus didukung pula
oleh sistem administrasi dan pola manajemen yang dinamis.

Definisi bank tertera pada Undang-Undang RI tentang perbankan tahun
1992 Bab I, yaitu: Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat yang berbentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat
dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank yang ingin maju
dan berkembang harus merancang dan menerapkan strategi pemasaran untuk
setiap pasar jasa yang dipilih.
Mengembangkan strategi pemasaran berarti membuat suatu program
yang sistematis dengan harapan akan tercapainya suatu maksud atau tujuan.
Strategi pemasaran yang kompetitif merupakan kunci keberhasilan suatu bank.
Adalah seleksi atas pasar sasaran, penentuan posisi bersaing dan
pengembangan suatu marketing mix yang efektif untuk mencapai dan
melayani nasabah yang telah dipilih.
Dalam rangka meningkatkan peranan perbankan untuk menunjang
usaha pembangunan, pemerintah mengeluarkan paket kebijaksanaan 27
Oktober 1988, yaitu kebijaksanaan deregulasi di bidang perbankan yang
merupakan langkah lanjutan dan penyempurnaan deregulasi 1 Juni 1983.
Kemudian pada tanggal 20 Desember 1988 pemerintah mengeluarkan paket
kebijaksanaan baru yang dikenal dengan Pakdes 20 yang merupakan
kelanjutan dari kemudahan-kemudahan di bidang perbankan yang diberikan
dalam paket 27 Oktober 1988.
Dampak kebijaksanaan 27 Oktober 1988 dan paket kebijaksanaan 20
Desember 1988 tersebut adalah munculnya bank-bank baru di Indonesia,
karena persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendirikan sebuah bank
semakin ringan. Namun ketika Indonesia mulai mengalami krisis moneter dan
krisis ekonomi pada tahun 1998, tidak sedikit bank yang harus dilikuidasi
karena tidak sehat. Tetapi ada beberapa bank yang kondisinya tidak sehat
melakukan merger menjadi bank baru. Meskipun demikian saat ini masih
banyak bank yang masih beroperasi di Indonesia, termasuk di Surakarta.
Banyaknya bank tersebut mengakibatkan persaingan antar bank dalam
menghimpun dana masyarakat sebanyak-banyaknya ditempuh melalui
bermacam-macam cara, antara lain dengan mengeluarkan jenis-jenis tabungan
baru yang dilengkapi dengan sejumlah atribut yang dapat merangsang minat
masyarakat untuk menabung. Misalnya tabungan dengan bunga dihitung
berdasar saldo harian yang diakumulasikan setiap akhir tahun (tabungan bunga
harian), tabungan yang memberikan hadiah dengan undian setiap beberapa
bulan sekali (tabungan berhadiah) dan lain-lain.
Alasan/motif seseorang dalam menabung secara umum, misalnya
karena:
1. Orang menabung untuk persiapan hari tuanya dan akan menggunakannya
kembali selama masa pensiun, di samping itu juga untuk mewariskan
kekayaannya pada turunannya.
2. Orang menabung karena ada kelebihan pendapatan setelah digunakan
untuk belanja barang dan jasa.
3. Motif spekulasi dengan jaminan untuk memperoleh keuntungan karena
adanya perubahan tingkat suku bunga di masa mendatang.
4. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap nilai rupiah sehingga
orang tidak lagi menanamkan uangnya dalam bentuk dollar di luar negeri.

Ternyata dengan munculnya jenis-jenis tabungan baru itu, motif/tujuan
orang menabung tidak hanya alasan-alasan seperti yang telah disebutkan di
atas, tetapi juga karena untuk mendapatkan hadiah, karena mengikuti mode
dan lain-lain. Meskipun hal ini menunjukkan respon yang positif dari
masyarakat.
Faktor-faktor yang menentukan keputusan seseorang dalam memilih
bank sebagai tempat menabung sangat tergantung pada atribut-atribut yang
melekat pada bank itu, seperti pelayanan karyawan, lokasi, suku bunga, iklan
yang menarik, hadiah yang diberikan, frekuensi penyaringan hadiah,
bonafiditas bank, kepercayaan masyarakat dan lain-lain. Atribut dari bank itu
sebenarnya meliputi 4 bidang, yang dalam masyarakat pemasaran dikenal
sebagai marketing mix atau bagian pemasaran yang meliputi produk, harga,
tempat dan promosi.
Banyaknya jumlah bank yang menawarkan jenis-jenis tabungan baru
dengan serangkaian atribut yang melekat itu menyebabkan persaingan antar
bank untuk menarik nasabah semakin meningkat dan upaya yang ditempuh
bank-bank itupun bermacam-macam, karena itu nasabah bank saat ini
dihadapkan pada berbagai pilihan bank yang menawarkan bermacam-macam
atribut yang memikat. Keputusan menabung sangat tergantung pada nasabah
itu sendiri dan alasan seseorang memilih suatu bank dan bukan bank lain
banyak ditentukan oleh pandangan dan tingkat kepercayaannya terhadap bank
itu.

Metode Penelitian

Dengan menganalisis ada tidaknya pengaruh yang signifikan antara produk
tabungan terhadap keputusan menabung dan faktor produk tabungan yang paling besar
mempengaruhi keputusan menabung .

Metode Riset : Jurnal 1

Judul : PENGARUH ATRIBUT PRODUK YANG DIPERTIMBANGKAN DALAM PEMILIHAN
PRODUK DEPOSITO PERBANKAN
Pengarang : Gunarto Suhardi
Tahun : 2008


Abstract
Trust is the critical element in banking product. Without consumer trust, banking industry will
face a difficulties to create a true loyalty. Attribute product can help banking industry to create
consumer trust by creating a product which has an important attribute by which consumer make
a consideration whether the bank is credible or not. The aim of this research is to find out
attribute that is important in consumer persepective and how would those attribute affecting
their trust and their loyalties to the bank. Exploratory factor analysis was used to find the most
important attribute product. The exploratory factor analysis result then analyized with structural
equation modeling to calculate the effect of the important attribute to the consumer trust and
loyalty. As a result, they are 2 factor which are Flexibility factor and Bank Competencies factor
as an important attribute product which has affected trust and loyalty as well.
Keywords : trust, banking, attribute product, loyalty, deposito


1. PENDAHULUAN
Sesuai bunyi pasal 4 Undang Undang No 7 Tahun 1992 dan Undang Undang No 10 Tahun 1998 perbankan
Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan,
pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Pasal 1 juga
menyatakan bahwa fungsi utama perbankan adalah menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat.
Untuk melaksanakan fungsi itu maka langkah pertama adalah bank harus mampu menghimpun dana
dengan terus menarik nasabah untuk menempatkan dananya pada bank terutama yang berjangka panjang
berupa deposito. Dengan demikian, Bank harus memahami pengaruh atribut produk yang dipertimbangkan dalam
pemilihan produk deposito perbankan terhadap kepercayaan dan dampaknya pada loyitas nasabah.
Perlu juga diperhatikan bahwa kasus ini mempunyai keterkaitan dengan kejadian dan dampaknya secara
luas pada fungsi perbankan ketika pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, terutama dalam kondisi
ekonomi Indonesia yang senyatanya sedang menurun terutama dalam kasus produktivitas bangsa. Sebagaimana
tertulis dalam Undang Undang yang ditujukan pada masyarakat perbankan maka tugas meningkatkan produktivitas
bangsa melalui pembiayaan oleh perbankan adalah tugas yang paling menentukan bagi kelangsungan bangsa
Indonesia. Tugas ini hanya dapat tercapai apabila tugas penghimpunan dana berhasil dilakukan dengan baik.
Saat ini konsumen perbankan dalam menyimpan dana berbentuk deposito pada bank sangat berbeda
dengan dekade sebelumnya. Konsumen perbankan tidak lagi menjadi pihak yang terabaikan. Bahkan dalam
beberapa industri lainnya, konsumen menjadi penentu kelangsungan hidup perusahaan. Bukan sesuatu yang aneh
ketika perusahaan menutup usahanya karena tidak terdapat cukup pelanggan yang menguntungkan. Beberapa
ahli berpendapat bahwa biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh pelanggan baru lebih mahal 5 kali
dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mempertahankan konsumen yang sudah ada.

Dunia perbankan saat ini banyak diwarnai oleh berbagai produk baru disamping produk-produk investasi
konvensional yang telah ada. Saat ini begitu banyak bentuk investasi yang ditawarkan pada masyarakat. Terdapat
manajemen dana nasabah yang dikenal dengan sebutan reksadana, asuransi, manajemen asset, lembaga
pengelolaan investasi saham dan mata uang asing. Produk-produk ini sebenarnya merupakan derivatif dari produk
perbankan lama dan merupakan pengembangan dari tugas yang dibebankan oleh kedua Undang Undang itu. Jasa
keuangan semacam ini terbilang unik karena memiliki karakteristik yang unik dibandingkan dengan produk lain.
Elemen-elemen yang abstrak turut mewarnai hubungan antara konsumen dalam hal ini nasabah dengan pihak bank
Dalam produk yang mengandalkan hubungan antara konsumen dan penyedia jasa maka kepercayaan menjadi hal
yang mendasar bagi kinerja bank dan sangat menentukan kelangsungan usaha bank yang bersangkutan .
Seiring dengan semakin bervariasinya tawaran produk-produk jasa keuangan di pasar maka saat ini
terdapat kecenderungan bahwa deposito atau tabungan tidak lagi menjadi produk investasi satu-satunya bagi
konsumen yang memiliki kelebihan dana dan menginginkan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasinya.
Kecenderungan ini menggambarkan kompleksitas konsumen dalam pengambilan keputusan dalam produk jasa
investasi karena keputusan investasi merupakan keputusan diantara risiko dan keuntungan atau dengan kata lain
terdapat imbangan antara kenyataannya bahwa makin besar resiko juga makin besar juga hasil bunganya.
Produk investasi merupakan salah satu produk yang memiliki risiko tersendiri . Sementara di pihak lain,
proses keputusan konsumen tidak semata-mata ditentukan oleh harga atau hasil dari produk itu saja. Terdapat pula
aspek-aspek lain dari produk yang dipertimbangkan oleh konsumen dalam proses pengambilan keputusannya.
Penelitian ini bermaksud untuk menemukan atribut produk yang dipertimbangkan nasabah dalam memilih deposito
sebagai produk yang ditawarkan oleh perbankan sebagai bentuk investasi dan pengaruhnya terhadap kepercayaan
dan loyalitas nasabah.


METODA PENELITIAN
Sesuai dengan maksud dari penelitian ini, maka terdapat beberapa langkah dalam penelitian ini. Langkah
pertama, nasabah diminta untuk mengidentifikasi atribut produk yang menjadi pertimbangan dalam memutuskan
produk deposito bank mana yang dipercaya sebagai alat investasinya. Selanjutnya hasil identifikasi tersebut
dikelompokkan menjadi beberapa faktor (exploratory factors) dan selanjutnya dianalisis dengan persamaan
struktural untuk melihat pengaruhnya pada kepercayaan dan loyalitas nasabah.
Selanjutnya faktor yang ditemukan tersebut diteliti pengaruhnya terhadap kepercayaan nasabah pada
bank dan dampaknya terhadap loyalitas mereka. Berdasarkan tinjauan diatas, maka dapat dibangun kerangka
penelitian dengan beberapa dugaan yang dinyatakan dalam hipotesis alternatif sebagai berikut :

Faktor 1
                     Kepercayaan               Loyalitas
Faktor 2

H 1 = faktor 1 ke kepercayaan
H2 = faktor 2 ke kepercayaan
H 3 = kepercayaan ke loyalitas
                           
H1 = faktor 1 mempengaruhi kepercayaan nasabah pada bank secara signifikan
H2 = faktor 2 mempengaruhi kepercayaan nasabah pada bank secara signifikan
H3 = kepercayaan nasabah pada bank mempengaruhi loyalitasnya secara signifikan
Sebanyak 220 responden yang menetap di Surabaya dan merupakan nasabah beberapa bank di surabaya
yang memiliki simpanan deposito berjangka, diminta mengisi kuesioner terstruktur yang berisi pertanyaan
penilaian mereka terhadap atribut produk yang dipertimbangkan dalam keputusan penempatan dananya. Data
untuk identifikasi atribut dikumpulkan dengan penggunaan skala Likert 1 – 5 dimana 1 mewakili sangat penting
dan 5 mewakili sangat tidak penting. Data dikumpulkan periode Januari - April 2007. Sampel diambil dengan
menggunakan teknik random sampling di beberapa bank di Surabaya dengan memegang prinsip kerahasiaan
nasabah. Sampel adalah nasabah bank pemerintah maupun swasta di Surabaya yang memiliki deposito berjangka
selama periode penelitian berlangsung, berdomisili dan bekerja di Surabaya dan telah menjadi nasabah bank yang
bersangkutan lebih dari 5 tahun.
Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukur kepercayaan merek adalah indicator yang
digunakan oleh Luarn dan Lin (2003) yaitu benevolence (perhatian dan motivasi yang dipercaya untuk bertindak
sesuai dengan kepentingan yang mempercayai mereka), competency (kemampuan pihak yang dipercaya untuk
melaksanakan kebutuhan yang mempercayai) dan predictability (konsistensi perilaku pihak yang dipercaya).
Sementara untuk loyalitas, indikator yang digunakan untuk mengukur variabel ini adalah studi ini menggunakan
pendapat Oliver (dalam Costabile, 2000) yaitu kesetiaan secara kognitif, afektif, konatif dan kesetiaan tindakan.


2. PEMBAHASAN

Kompetensi bank yang terdiri dari keamanan, citra bank, mudah diakses nasabah, jaminan kerahasian
identitas, tingkat bunga dan prosedur pembukaan deposito yang mudah memberikan dampak yang besar pada
loyalitas nasabah sebesar 31.3%.
Faktor Fleksibilitas yang terdiri dari fasilitas sebagai jaminan pinjaman, pilihan jangka waktu, minimal dana
yang disimpan dan kemudahan untuk pencairan memberikan dampak tidak langsung terhadap loyalitas sebesar
30.5%
Meskipun survey ini dilakukan di Surabaya akan tetapi nampaknya hal ini menjadi pola nasional berdasarkan
dua alasan pokok yakni:
1. Kota Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dimana pengaruh individu perseorangan dan
pengaruh perusahan masih dalam imbangan wajar ( vide Laporan 4 Wilker Bank Indonesia Jawa Timur
periode 2005 ). Pada umunya perorangan menempatkan kelabihan dananya pada bank terpercaya
berdasarkan perhitungan keamanan dan tingginya suku bunga dibandingkan dengan penempatan
lainnya. Menurut laporan BI Wilker Surabaya sejak tahun 2000 telah terjadi pergeseran simpanan
deposito dari jangka pendek kejangka menengah dan panjang karena kebutuhan pendanaan dunia
usaha telah berubah kearah jangka lebih panjang dan karena faktor kepercayaan yang tinggi pada
perbankan nasional. Simpanan perbankan jangka panjang tentu saja dapat difasilitasi produk perbankan
berupa Deposito Berjangka yang total dananya di Jawa Timur rata mencapai 2 ( dua ) kali lipat dari
sarana simpanan berupa tabungan dan 3 ( tiga ) kali lipat dana berbentuk Giro ( vide Kajian Ekonomi
Regional Jawa Timur Triwulan IV/2000 yang diterbitkan Bank Indonesia Surabaya )
2. Dari Laporan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia yang diterbitkan Bank Indonesia pusat 2007 ( vide
www. bi.go.id ) dapat diambil kesimpulan yang hampir sama bahwa faktor keuntungan dan kepercayaan
menjadi alasan mengapa simpanan deposito dan tabungan yang berjangka lebih panjang dari Giro tetap
menunjukkan angka yang cukup tinggi. Sayang bahwa dalam laporan itu masih diadakan penggabungan
antara simpanan berjangka ( deposito ) dengan simpanan berupa tabungan. Meskipun demikian dengan
melihat laporan Wilker BI di Jawa Timur dapat diambil pedoman bahwa secara nasionalpun total saldo
deposito nasional masih 2 ( dua ) kali lipat simpanan berupa tabungan.


Hal lainnya dalam menganalisa dana deposito yang kiranya perlu mendapat catatan atau perhatian adalah
antara lain:
1. Daya pengendapan dana :
Baik dana giro dan lebih-lebih deposito mempunyai daya peengendapan yang stabil bahkan terus
meningkat dari bulan kebulan bahkan dari laporan Bank Indonesia juga dari tahun ke tahun. Daya
pengendapan ini penting karena berhubungan langsung dengan kemampuan bank umum untuk
memberikan fasilitas kredit kepada nasabah debiturnya yang pada umumnya cenderung untuk memakai
fasilitas kredit ini dalam jangka lebih dari satu tahun ( perpanjangan tiap tahun ) .
Bila daya pengendapan pendek dan tidak stabil maka niscaya akan terjadi missmatch yang akan
memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan bank umum. Prinsip yang harus dipegang dalam usaha
perbankan adalah dana dengan jangka waktu pengendapan pendek harus ditempatkan dalam sisi aktiva
yang pendek pula. Ini menimbulkan dilema karena usaha produksi biasanya memerlukan jangka waktu
menengah bahkan untuk investasi harus dibiayai oleh dana kredit investasi yang berjangka panjang.
Oleh karena itu maka opsi untuk memberikan kredit jangka menengah atau panjang haruslah dihadapi
dengan strategi untuk memperoleh dana simpanan masyarakat yang berjangka panjang misalnya
deposito berjangka.
2. Juridically predictable.
Meskipun terdapat daya pengendapan yang stabil pada semua jenis dana pada kondisi ekonomi
negara yang normal akan tetapi dana deposito adalah satu-satunya yang secara juridis dapat dipastikan
jangka pengendapannya. Certainty dan oleh karena itu predictibility adalah unsur terpenting dalam
usaha industri dan trading. Kedua unsur ini hanya dapat diberikan secara jelas oleh usaha pengumpulan
dana dalam bentuk deposito perbankan.
3. Pengaruh pasar finansial.
Bagi mereka yang memahami situasi pasar keuangan ( financial market ) tentu mengetahui bahwa
investasi dalam pasar modal mengandung resiko yang lebih besar karena meskipun sering terjadi
rebound pada saat terjadi gejolak pasar modal akan tetapi sering juga meninggalkan bilur-bilur kerugian
pada pemilik modal. Sebaliknya krisis perbankan ( mass bank failure ) tidak sering bahkan hampir tidak
pernah terjadi pada seluruh wilayah pasar keuangan. Regional crisis mungkin terjadi akan tetapi tidak
meliputi seluruh dunia sekaligus seperti krisis tahun 1998 hanyalah terjadi di Asia.
4. Konstribusinya :
Konstribusi deposito terhadap keseluruhan usaha pengumpulan dana perbankan juga cukup besar
bahkan boleh dikatakan paling besar. Ini juga menunjukkan bahwa motivasi penyimpan dana makin
jelas yakni untuk memperoleh keamanan ( trust ) bagi dananya dan perolehan hasil bunga yang cukup
tinggi. Pada dana giro sebenarnya motivasi penyimpan hanyalah kepercayaan dan kelancaran dalam
penarikannya sehingga dimaksudkan bukan untuk “menyimpan” dananya akan tetapi hanyalah untuk
memperlancar transaksi usahanya saja.

3. PENUTUP

Stability, pricditybility dan sustainability penyediaan dana perbankan berkat kepercayaan para nasabah bank
pada produk deposito pada gilirannya juga mempunyai pengaruh yang amat besar bagi jalannya usaha produksi
pada ekonomi riil. Tanpa usaha produksi riil maka tugas negara untuk menyediakan dan menjaga kelangsungan
kesempatan kerja bagi seluruh penduduk Indonesia juga tidak dap[at diolaksanakan dengan baik. Kesempatan
kerja merupakan kunci pokok dalam memenuhi tugas negara sesuai konstitusi yakni memberikan kesejahteraan
bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Kesempatan kerja dan pemberian kemakmuran bagi rakyat masih sepenuhnya bergantung kepada
kebijaksanaan keuangan negara dan kebijaksanaan dalam reksa pemerintahan lainnya termasuk dalam
penyediaan infrastruktur dan penyediaan energi nasional akan tetapi sekurang-kurangnya masyarakat perbankan
sudah memberikan konstribusi yang amat penting. Konstribusi inilah yang juga diharapkan oleh Undang Undang
No 7 Tahun 1992 dan Undang Undang No 10 Tahun 1998 ketika membahas tentang tujuan, fungsi dan peranan
bank di Indonesia sebagaimana disebutkan dalam pasal 4 Undang Undang tersebut yakni “ Perbankan di
Indonesia bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan,
pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak”.
Keterbatasan penelitian ini adalah sampel yang digunakan hanya terbatas pada daerah Surabaya sehingga
bersifat regional. Akan tetapi dengan dukungan data perbankan secara umum, keterbatasan tersebut masih dapat
ditanggulangi. Untuk penelitian selanjutnya, dapat mengkaji masalah ini ke seluruh wilayah Indonesia dengan
populasi yang lebih luas lagi sehingga hasil penelitian dapat lebih valid.

source : http://gubuk-biru.blogspot.com/2011/06/download-jurnal-ekonomi-dan-perbankan.html




Kamis, 18 Oktober 2012

Torres Full Interview ;)


España - El País
By Luis Martín
The night is chilly and windy at Las Rozas’ City of Football. It seems like the perfect night to have a little chat with Fernando Torres. El Niño is going back home, to the Manzanares, where everything started, where he left after a 2-3 defeat to Celtic in the summer of 2007 in search of his own life. He left to Liverpool and now he returns as Champion of Europe with Chelsea, twice with Spain and as a champion of the world. He’s precocious about everything, this kid, and he might reach his 101 match for Spain against France tonight. He comes back home, but he’s not the same.
What is left of that boy who won the Burnete Tournament with Atlético?
Values. I’ll never forget what I learned there. I was lucky to start off when I was very young, because now that I’m older certain things can’t and won’t surprise me anymore. I wouldn’t change a thing of how everything’s panned out. You think you’ve lived through everything, but you haven’t. And in the end, you learn from everything.
Do the scars hurt?
At first they do. But then life teaches you new things, and you learn to change the order of your priorities and your values. Your learn to fit into life in a new way, maybe not as intensely as before. For every scar, and for every bad moment, there are thousands of people who stay by your side. Social networks allowed me to be conscious of this, of people following my every step along the way. It’s when you know you’re not alone… but there are times when you just think about protecting yourself.
How have you dealt with the critics?
I won’t let them affect me. I’ve learned how to do that, but I’ve also learned to not disassociate and isolate myself and not listen, but to listen and learn. I learned to look at myself and know that the only one who can actually change things for the better is me, that the only one who can say and mean “you’re making a mistake, and you should do something about it”, is me.
What have you done wrong?
A lot of things. Last season, specially during the first half, I grew apart from the values I had grown up with. I’ve had some teammates that don’t really care about winning or losing because they’re not the ones playing. I never wanted to be like that. But one day I found out that I was, that I was indifferent about winning or losing because I was not playing, because I was not really part of the team. And I discovered that I wasn’t happy because I distanced myself from who I was and who I wanted to become. In a dressing room, the group mentality, not necessarily of friends but of a group of teammates, can and should never be lost.
You seemed to have lost your identity, while playing for Chelsea.
That’s what the team required of me. It was said that I was a different player because I intented to serve the team first and foremost.  That was the way I played and it might not have been the best for me but that was the only way there was to play. I sometimes thought “I’ll run behind the defenders’ backs, I’ll create spaces”, and during 70 minutes I couldn’t touch the ball once. If I stayed in my position I wouldn’t get involved in the game at all. What was I supposed to do? I was so different from what I was used to, from what Benítez had taught me, and it showed! Then a new manager came in and things changed a bit.  But of course that whole sorry episode had a big positive: I became a better player. Now I dominate aspects of the game that I wasn’t even aware of before. And you can be the player that your manager wants you to be but not the one you’re expected to be, by everyone else. I talked a lot to Steve Holland, the assistant manager, and he taught me how to deal with it all. In the end, it’s the players who provide style to the team.
What did you learn?
I matured, I learned to trust and know myself a lot, I grew conscious that in the end everything was up to me. I learned to be very self-critic, to understand everyone around me in a better way, to accept situations as they come.
Did Luis (Aragonés) taught you some of that?
I think Luis put a lot of effort into teaching me things I already knew, and we’ve discussed that. That was during the Atlético times though. Later on, when he became the national team’s coach, I really took advantage of his teachings. I noticed that he used to tell me to keep practicing things I already knew how to do well. Then he bugged me a lot about personality traits, character, values, that I was already very aware of at that age, because I’d learned them in the Atleti cantera. As time passes by and you keep growing as a player and become important in a larger scale, there’s a lot of things you might forget, you leave them behind. But Luis reminded you of them every day. That’s the kind of dressing room I like, the one where respect towards one another exists above everything. Do you know who Paulo Ferreira is?
Your Chelsea teammate?
Yes. He’s won the Champions League, the league in Portugal, England, and he’s basically won every title out there, yet he’s barely gotten any playing time in the last two years. He’s a ten as a person. He taught me to play the role I’m given accordingly, to adapt to any circumstance, to say “this is what I have to do now”. He trains the hardest, he always shows up to match days with a smile on his face, he always watches after the younger ones. I’ve learned so much from him.
What would you like to do, after all this is done?
The only thing I’ll be worried about when I retire will be someone saying I’ve been a bad teammate, disrespectful, arrogant. I’m sure that in twenty years from now, the first thing I’ll do when I visit Asturias will be to look for Juan, or Santi. And if for some reason I find myself in Andalucía I’ll do my best to meet with Sergio, Pepe. That’s the most beautiful thing of it all. Sadly, when football is done, some friends are lost forever.
Is that the secret of this national team?
Without a doubt. We went through some very bad experiences before the good ones came. Before Viena happened, we were booed by our own people in Spain. Even though it hurt, we took strength from it and it became a motivator. Then we realized of how better we were from all those players who came from abroad to play in the Spanish league, we realized just how incredibly good Xavi was… We discovered that we were capable of doing it, everything we set out minds to, that we were as good as the rest of them. I never understood how the Spanish league got so many players who were vastly inferior to the ones playing in the Spanish clubs’ very own canteras (youth systems). Then, of course, we sent those players to England and they went crazy over them there. It makes you think “and how come neither Barça or Madrid signed him?”. Nowadays Spanish players feel more free and less scared to go to work abroad.
You left when you were very young. Would you do it again?
Of course! It’s the best thing I’ve ever done. Not only in a professional way, but in a personal too. You start to see things in a different way, you get a broader perspective of life. Seeing the situation the country’s in right now, people will have to start leaving sooner or later. But in the end that can be an advantage too, it can be positive. We grow as people and we become better human beings. It happened to our parents and our grandparents.  My father is Galician and somehow now we have family in Argentina! That’s the solution. If you don’t have what you need right in front of you, you have to go get it, anywhere. But until enough people realize that many years will pass, and that means lost time. We have to be brave. If you must leave, you leave, you learn and you come back.
Do we have to be brave when it comes to everything?
Yes, when it comes to everything. Time teaches you not to hide your feelings, even though in my case it’s a bit different. To open myself up and show my feelings freely during an interview can turn out to be a great mistake. I tend to hide my feelings to protect myself and those around me. I have to be cautious about everything I say. In the end people always remember the headlines they read, and nothing more. The media gains its readers by putting out dramatic or exciting headlines. Me for example, I admit I sometimes only read the headlines. I’m very scared of headlines to be honest, because after all is said and done, they’re all that’s left. Very few people read the complete article o interview, they only do it if they’re big fans of someone or something. It’s really easy to judge based on a headline, without learning about the context or the circumstances.
You’ll be back at the Calderón. Home at last?
I belong to Atlético. I think that in the end, you belong to one club, and to one club only. You can love a few ones, you can be grateful to some, but the one you choose to beyours it’s only one. I think Atlético represents very useful values in life, they’ve certainly been useful for me, even though I play for Chelsea now, a much more settled team, a team from a higher social class. But I still stand by the values I learned at Atlético when I was a child, which contrary to popular opinion, are not about victimizing yourself or about deeming yourself inferior from everybody else, but about fighting and getting through things relying only in what you are and what you have. A lot of times a failure can turn into a victory. And what is more beautiful than defending and standing by you values until the very end, and not only to succeed, but to do it in the way you wanted to?
You played with Simeone… Are you surprised by what the team he’s done so far at Atlético?
Yes, even when he was still a player, he already was a coach. I remember he once told me, “the day I become a coach, it’ll be pretty simple. I’ll want to do certain things and I want to have players who do them accordingly. If they don’t, I’ll play someone else, no matter if they’re 15, 20 or 40 years old.” He had very clear ideas of what he wanted, even back then. He used to put a lot of pressure on the younger players but you could tell just how much he loved us. I’ve been surprised by just how well he’s handled a team that wasn’t his. He was given that team and he still made it his.
How long will Falcao last at the Manzanares?
You never know, depending on the team’s aspirations and success, and on their weekly performances. When a player outgrows a club, it’s not the right thing to do to try to stop him from leaving because it won’t be good in the long run for any of the parties involved.
What is your relationship with Del Bosque?
Vicente is exactly what he appears to be, he is not a hypocrite at all. He’s always dealt with us in the same way, since it all began. He doesn’t tend to engage in individual dialogue with players, but every time he’s had something to tell me, he’s told me.
You’re a number nine in a team that is now playing without one. How are you handling it?
We are a team full of alternatives. When everybody is so aware of your existence, you have to look for alternatives. Who knows, maybe in a few months we’ll be playing without wingers! Football is an evolving sport, and Barcelona has dictated a style that right now is trying to be emulated from clubs and national teams from all over the world. They’ve broken every barrier there is. There are teams everywhere wanting, wishing to play like Barça, from England to Italy. It’s not scary anymore the thought of playing a game without a number nine, when before it would’ve been considered insane. Spain has proved itself that it can win with or without a numer nine, against any rival, anywhere, without fear. We know how to play against France, Belarus and Brazil.  There is no other way. And that is something that Guardiola’s Barcelona defined, he set a pattern. He taught us that you can play well and win. Well, it’s the same thing in the National team. We know we’ll be given the ball, we know we’ll be the ones in control.
But in that context, what is the job of the classic number nine nowadays?
To be patient. It’s complicated to play and to get minutes. You have to keep the center backs in their places, it’s a secondary job, but it’s what it’s best for the team. It’s a complete luxury to be able to play in this national team. Here, it’s really common for me to finish a match in a good mood, even if I didn’t score, because I did what was best for the team, what the team needed. There are days when I think, “What a good match I had, I hope to play like that all the time”… and then you realize there are people criticizing you from left to right. But then the match you know hasn’t been your best, when you’ve been slow, clumsy, awkward and overall bad, but you’ve scored twice, you have everyone praising you. I’ve learned to live with that.
Tito Vilanova says that in the end, nothing ever really happens in football.
I agree. You’re left with the good experiences and the personal acknowledge of what you’ve done and accomplished. Managers like Benítez or César Fernando taught me to think like a manager. That’s had its pros and cons, of course, and I’ve realized that on the pitch, a player mustn’t really think, he must act. When you look at a team, at any team, as a system instead of a team, you think about what must be done instead of what you’re “supposed” to do.
You didn’t leave Liverpool in good terms, but you always talk about that stage of your life as something wonderful. Why?
I owe so much to Liverpool, so so much. To the people, to the team, to Benítez, to his staff, to the city. Liverpool is a fundamental part of my life. Even though they don’t remember me like that, I’m confident that time will heal some wounds. When I left Atleti, I really couldn’t have chosen a better place to go than Liverpool. The other day, when the news about Hillsborough came out, I got really emotional. I lived through it, I know what people have gone through, I saw them cry… I felt it, I made it mine. The news came a bit too late, of course, but it’s definitely a step forward. These are the kind of valuable things you’re left with from having played at a club like Liverpool. A feeling, above everything else. I decided to leave because I felt like I needed to go in a different direction than the club, like I needed to take a step forward. It wasn’t the best way to leave, it really wasn’t, but it wasn’t also the way the press tried to portray it. Someday, people will know the whole truth. It was mainly about needing something new to keep growing. We talked about it earlier, about the whole growing thing and how important it is. My son is from Liverpool, he was born there, and he kicked his first ball before he turned one year old. He was born in the city of football, he is doomed.
And what about London?
In London I go to Rock & Roll clubs and no one knows who I am. It’s fantastic.

The first respond I read about Torres Interview :)

Under pressure: Swansea players are reportedly unhappy with Michael Laudrup

Laudrup calls on unhappy Swansea players to follow Torres' lead

Read more: http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-2219313/Michael-Laudrup-tells-Swansea-players-follow-Fernando-Torres.html#ixzz29ctqEzCP
Follow us: @MailOnline on Twitter | DailyMail on Facebook



Swansea City manager Michael Laudrup has told any disenchanted players within his squad to follow Fernando Torres’ lead and get behind their team.
Chelsea striker Torres admitted this week that there have been times when he didn’t care of his side lost, but insisted he had become a team player again.
Laudrup, who has been under fire since Sportsmail revealed last week that elements of his squad are unhappy with his methods, is now calling for his players to follow the Spaniard’s example and end their run of four games without a win.

‘Torres talked about when he was a young player in Spain and he saw players who were not playing and they didn’t care about the results of the team,’ Laudrup told the South Wales Evening Post.
‘He said he would never be like that. But then he said that one day, I think when he was at Chelsea, he did get to that point.
‘Then he said, “I don’t want to do that, I want to be part of the team”. To me that is very important.’

Laudrup added: ‘Players who are not playing are never happy. If you are not in the 11, you are not happy.
‘If you are not even in the 18, you are definitely not happy. That’s something we have to accept in football but we all have to remember to be a squad.
‘If we are not a squad, it does not work.’

My Favorite Interview Right Now :)

Spain and Chelsea striker Fernando Torres says he has become more of a team player on the pitch. Photograph: Juan Medina/Reuters

Fernando Torres has admitted he became exactly the kind of player he had always despised when he reached a point where he did not care if Chelsea won or lost. The Spain striker says he has refound himself since the dark days of last season and has learned to become a different player in order to serve the team above himself. He has also insisted that he has no regrets about joining Liverpool but admits that the way he left Anfield was "not the best".
"Halfway through last season, I distanced myself from the values I had grown up with,"Torres told El País. Catharsis and confession come together in a remarkable interview with the paper's reporter Lu Martín, which reveals the Spaniard's self-awareness and hints at the emotional journey that Torres has undertaken.
"I had team-mates who didn't care if the team won or lost because they were not playing," Torres said. "I never wanted to be like that. [But] one day I discovered that I was like them, that it didn't matter it we won or lost if I was not playing. I wasn't part of the group. I discovered that I was not happy because I had stopped being what I had always wanted to be. In the dressing room, you can never lose that group concept."
"But I learned to look at myself and to realise that the only person that can change is you. The only person who can say: 'You're making mistakes, you've got to do something' is you."
Torres added that he found that his game changed under André Villas-Boas and that contributed to his frustration but that with time he found satisfaction in a more selfless role.
"I became a different player because I was serving the team," he said. "It was to my personal detriment but it was the only way to play. At times I thought: 'I'm going to run in behind the defender, I'm going to offer myself and go into the space.' And I could go 70 minutes without touching the ball. If I played in my [natural] position, I wasn't involved in the game. What do I do? It was so different to what I was used to with [Rafa] Benítez that I was not happy and you could tell."
"When we changed coach [and Roberto Di Matteo took over] it was a bit more similar [to Benítez's style]. That had a good side to it, which was that I learned: I became a better player.
"I can now do things that I was not able to before. You can be the player that your coach wants but you're not the player that people expect you to be. I spoke to Steve Holland, the [Chelsea] assistant, a lot and we worked hard on it."
Torres continued: "I became more mature, I came to know myself better and became conscious of the fact that it depends on me. I learnt to be more self-critical, to understand everyone better and to accept the situation.
"I learnt that if we won it didn't matter that I hadn't played. I had to keep working. You can settle into a comfort zone or you can accept your role and [Paulo Ferreira] taught me to say to myself: 'This is the situation now.' He always trains as hard as anyone, he always has a smile, he is always close to the young players. He has taught me a lot.
"When I retire the only thing that concerns me is that no one can say that I was a bad team-mate or disrespectful or self-important."
Asked if he would go to England again if he could turn back the clock, Torres replied: "Definitely. Not just because of the professional experience but the personal one too. You start to see things in a different way, your perspective gets opened up."
"I owe Liverpool a huge amount," he said. "To the people, to the men in charge, to Benítez and his staff, to the city. Liverpool is a fundamental part of my life. They don't remember me that way, but time will change that.
"I could not have chosen a better place to go when I left Atlético. The other day when the news broke about Hillsborough, I felt emotional. I have experienced that, I know what the people have been through, I have seen them cry. I've lived that, I made it mine. This has arrived too late but it's another step [in the right direction]. And it is things like that that playing for Liverpool gives you: it's a feeling.
"I decided to leave because I had to take a step forwards. It wasn't the best way to have gone but nor were things exactly as they were sold [to people]. One day the truth will come out. In a sporting sense, nothing was happening; a new project was needed. We talked about that – about growth. My son is a Liverpool fan and he was already kicking a ball before he was one. He was born in the football city; he had no choice."

Pembelian


BAB IV part 2
Pembelian
1. Proses Keputusan Membeli
            Proses pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahap : pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, pengevaluasian alternatif, keputusan pembelian, dan
perilaku setelah pembelian .Jelas bahwa proses pembelian berlangsung jauh sebelum pembelian aktual dan berlanjut jauh sesudahnya. Pasar perlu berfokus pada seluruhProses Pengambilan Keputusan Pembelian bukan hanya pada proses saja
            Secara teori konsumen melalui seluruh lima tahap pada tiap pembelian .Tapi pada pembelian rutin, konsumen terkadang melewatkan atau membalik beberapa tahap itu. Seorang wanita yang kadang membeli pasta gigi merek yang biasa digunakannya akan mengenali kebutuhan tetapi dia akan bergerak langsung ke proses pembelian, dengan melewatkan pencarian informasi dan mengevaluasi alternatif. Pertimbangan yang muncul pada saat konsumen menghadapi situasi pembelian baru bisa bersifat kompleks
Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian bermula dari pengenalan kebutuhan (need recognation)- pembelian mengenali permasalahn atau kebutuhan. Pembeli merasakan adanya perbedaan antara keadaan aktual dan sejumlah keadaan yabg diinginkan. Kebutuhan itu dapat dipisu oleh stimulus internal ketika salah satu kebutuhan normal-lapar,haus,seks, naik ke tingkatan yang cukup tinggi sehingga menjadi pendorong.
Kebutuhan dapat dipisu oleh rangsangan eksternal. Seseorang mungkin merasa membutuhkan hobi baru ketika kesibukan pekerjaanya mulai menurun, dan dia mulai memikirkan kamera setelah berbincang – bincang dengan teman tentang fotografi
atau setelah melihat iklan kamera. Pada tahap itu, pemasar menuntun konsumen supaya membeli produk tersebut
Setelah mengumpulkan informasi seperti itu, pemasar dapat mengidentifikasi faktor faktor yang paling sering memicu ketertarikan terhadap produk dan mengembangkan program pemasaran yang melibatkan faktor – faktor tersebut.
2. Memilih Alternatif Terbaik
Sikap konsumen terhadap sejumlah merek tertentu terbentuk melalui bebErapa prosedur evaluasi. Cara konsumen memulai usaha mengevaluasi alternatif pembelian tergantung pada kosumen individual dan situasi pembelian tertentu. Dalam beberapa kasus , konsumen menggunkan kalkulasi yang paling logis.
3. Memilih Sumber – Sumber Pembelian
Konsumen dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber. Sumber itu meliputi sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, rekan kerja), sumber komersial (iklan, penjual, pengecer, bungkus, situs Web dan lain - lain) , sumber publik (media massa, organisasi pemberi peringkat), dan sumber berdasarkan pengalaman (memgang, meneliti, menggnakan produk). Pengaruh relatif di antara sumber informasi itu berbeda beda di antara berbagai produk dan pembeli.
Konsumen biasanya menerima sebagian besar informasi dari sumber komersial yang dikendalikan oleh pemasar. Namun demikian, sumber yang paling efektif cenderung yang bersifat pribadi. Sumber komersial biasanya memberikan informasi kepada pembeli, sedangkan sumber pribadi memberikan legitimasi atau mengevaluasi produk bagi pembeli.
Seseorang terkadang meminta oranglain – teman, keluarga, rekan kerja dan para profesional supaya merekomendasikan produk atau jasa. Oleh karena itu, perusahaan mempunyai ketertarikan yang kuat untuk membangun sumber pemasaran getok tular( word of mouth sources). Sumber – sumber itu mempunyai dua keuntungan utama
Pertama, sumber itu meyakinkan. Pemasaran dari mulut ke mulut adalah salah satunya metode promosi dari konsumen, oleh konsumen, dan untuk konsumen . Mempunyai konsumen yang setia da terpuaskan da membanggakan bisnis merupakan mimpi setiap pemilik bisnis. Tidak hanya konsumen yang puas mengulangi pembelian, tetapi mereka juga menjadi papan promosi berjalan bagi bisnis anda
Kedua, biaya yang rendah. Menjaga hubungan dengan konsumen dan mengubahnya menjadi sumber promosi getok tular membutuhkan biaya yang relatif rendah. Semakin banyak informasi yang didapat, kesadaran dan pengetahuan konsumen tentang adanya merek dan fitur akan meningkat. Dalam pencarian informasi, seseorang banyak mempelajari merek yang tersedia. Informasi itu juga membantunya meninggalkan pilihan merek tertentu. Perusahaan harus mendesain bauran
pemasarannya agar calon konsumen sadar dan tahu akan mereknya. Secara hati – hati perusahaan harus mengidentifikasi sumber informasi konsumen dan tingkat kepentingan tiap tiap sumber itu.

Evaluasi Alternatif sebelum Pembelian



1. KRITERIA EVALUASI   
Konsumen sering membuat keputusan berdasarkan pengaruh atau pada sikap secara keseluruhan terhadap merek atau untuk meminimalkan usaha atau emosi negatif.
Sifat Kriteria evaluasi             
      kriteria evaluasi biasanya fitur produk atau atribut yang terkait dengan baik manfaat yang diinginkan oleh pelanggan atau biaya yang harus mereka keluarkan. Jenis kriteria evaluatif digunakan dalam keputusan bervariasi dari segi biaya nyata dan kinerja untuk faktor intangible seperti gaya, rasa, prestise, perasaan yang dihasilkan, dan citra merek. Pemasar harus memahami kriteria yang digunakan konsumen untuk mengevaluasi merek mereka.
      Pengukuran Kriteria evaluasi
Hal yang harus ditentukan.
o   Kriteria evaluatif yang digunakan oleh konsumen.
                                                                                                                                         
o   Bagaimana konsumen mempersepsikan berbagai alternatif pada setiap kriteria.
o   Pentingnya relatif dari masing-masing kriteria.

Tentukan Kriteria Apakah Digunakan untuk menentukan kriteria yang digunakan oleh konsumen dalam keputusan tertentu.pemetaan perseptual adalah teknik lain tidak langsung berguna untuk menentukan kriteria evaluatif
Pendekatan pengukuran yang paling populer adalah pendekatan tidak langsung menggabungkan analisis dalam analisis menggabungkan, konsumen disajikan dengan satu set produk atau deskripsi produk dengan kriteria evaluasi bervariasi.
2. PENENTUAN ALTERNATIF PILIHAN
Sejumlah besar penelitian dan strategi pemasaran telah mengasumsikan pembuat keputusan konsumen rasional dengan yang terdefinisi dengan baik, preferensi stabil. Konsumen juga dianggap memiliki kemampuan cukup untuk menghitung pilihan mana yang akan memaksimalkan nilainya, dan akan memilih atas dasar ini.
·         Pilihan afektif
pilihan afektif yang paling mungkin ketika motif yang mendasari consummatory daripada instrumental. Consummatory motif mendasari perilaku yang

                                                                                                                        secara intrinsik bermanfaat untuk individu yang terlibat. Motif Instrumental mengaktifkan perilaku yang dirancang untuk mencapai tujuan kedua.
memvisualisasikan bagaimana manfaat yang dirasakan selama dan setelah pengalaman konsumsi. Hal ini sangat penting bagi merek baru atau produk dan jasa. Konsumen yang telah memiliki pengalaman dengan sebuah produk atau merek memiliki dasar untuk membayangkan respon afektif  yang dihasilkan.
·         Atribut berbasis versus atribut proses pilihan
Dua proses pertimbangan yang mungkin digunakan untuk membeli kamera digital:
Proses 1: Setelah konsultasi Internet untuk menentukan fitur apa yang paling disukai,  konsumen kemudian pergi ke toko elektronik lokal dan membandingkan berbagai merek fitur yang paling penting baginya yaitu, otomatis, kamera ukuran, fitur zoom, dan ukuran penyimpanan. Dia melihat keynggulan masing-masing model atas atribut dan kesan umum nya model kualitas masing-masing. Atas dasar evaluasi ini, ia memilih SportZoom Olympus.
Proses  2: konsumen mengingat bahwa temannya Olympus SportZoom bekerja dengan baik dan tampak "baik",orang tuanya memiliki Easyshare Kodak yang juga bekerja dengan baik tapi agak besar dan berat, dan tua Fujifilm Finepix tidak diinginkan serta ia diharapkan . Di toko elektronik setempat ia melihat bahwa model

dan Kodak Olympus memiliki harga yang sama dan memutuskan untuk membeli SportZoom Olympus.
Contoh pertama di atas adalah pilihan berbasis atribut. Contoh yang kedua sikap-berbasis-pilihan berdasarkan pilihan sikap. Secara umum, pentingnya membuat keputusan yang optimal meningkat dengan nilai barang yang sedang dipertimbangkan dan konsekuensi dari keputusan yang tidak optimal. Semakin mudah untuk mengakses atribut informasi lengkap suatu merek, pengolahan berdasarkan atribut,lebih kemungkinan akan digunakan.
      3. MENAFSIR ALTERNATIF PILIHAN
      Jika Anda membeli komputer notebook, Anda mungkin akan membuat perbandingan langsung seluruh merek pada fitur-fitur seperti harga, berat, dan kejelasan tampilan. Penilaian perbandingan ini mungkin tidak sepenuhnya akurat.
v  Akurasi penilaian individu
penelitian menunjukkan individu yang biasanya tidak memperhatikan perbedaan yang relatif kecil antara merek atau perubahan atribut merek. Selain itu, kompleksitas banyak produk dan jasa serta fakta bahwa beberapa aspek kinerja dapat dinilai hanya setelah digunakan luas membuat perbandingan merek akurat sulit.
v  Penggunaan Indikator pengganti     


Secara umum, indikator pengganti beroperasi lebih kuat ketika konsumen tidak memiliki keahlian untuk membuat penilaian informasi sendiri, ketika konsumen motivasi atau kepentingan dalam keputusan rendah, dan ketika kualitas informasi terkait lainnya yang kurang
v  Pentingnya relatif dan Pengaruh Kriteria evaluative
Pentingnya kriteria evaluatif bervariasi antara individu dan juga di dalam individu yang sama dari waktu ke waktu. Penggunaan situasi, konteks Kompetitif-Secara umum, efek Iklan.
v  Kriteria evaluatif, Hukum Individu, dan Strategi Pemasaran    
            Pemasar harus memahami kriteria evaluatif konsumen yang menggunakan produk mereka dan mengembangkan produk yang unggul pada fitur ini.Semua aspek dari komunikasi pemasaran harus mengkomunikasikan keunggulan produk. Pemasar juga harus mengenali dan bereaksi terhadap kemampuan individu untuk menilai kriteria evaluatif, serta kecenderungan mereka untuk menggunakan indikator pengganti
Tema periklanan yang menekankan penggunaan kesempatan khusus untuk yang merek ini khusus sesuai dapat efektif, seperti dapat strategi seperti citra yang menarik perhatian konsumen untuk suatu atribut di mana perusahaan merek ini sangat kuat.
4.  MENYELEKSI ATURAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tingkat tinggi satu atribut tidak dapat mengimbangi tingkat rendah yang lain. keputusan disjungtif aturan dan kata penghubung dapat menghasilkan seperangkat alternatif yang bisa diterima, sedangkan sisanya aturan umumnya menghasilkan satu "terbaik" alternatif.
    Kata penghubung Aturan Keputusan
Aturan keputusan kata penghubung menetapkan standar kinerja minimum yang diperlukan untuk setiap kriteria evaluatif dan memilih yang pertama atau semua merek yang memenuhi atau melebihi standar minimum.
Karena individu memiliki keterbatasan kemampuan untuk memproses informasi, aturan kata penghubung yang sering digunakan untuk mengurangi ukuran tugas pengolahan informasi untuk beberapa tingkat dikelola
     Disjungtif Aturan Keputusan
Aturan keputusan disjungtif menetapkan tingkat minimum kinerja untuk setiap atribut yang penting (sering level yang cukup tinggi). Ketika aturan pengambilan keputusan disjungtif digunakan oleh target pasar, sangat penting untuk memenuhi atau melampaui konsumen persyaratan pada setidaknya salah satu kriteria kunci.


   Eliminasi oleh aspek Aturan Keputusan 
   Untuk target pasar menggunakan eliminasi oleh aspek aturan, sangat penting untuk memenuhi atau melampaui  satu atau lebih persyaratan konsumen persyaratan (dalam urutan) dari kriteria yang digunakan dari kompetisi.
   Leksikografis Aturan Keputusan
Aturan pengambilan keputusan leksikografis mirip dengan eliminasi-oleh aspek aturan-. Perbedaannya adalah bahwa aturan leksikografis mencari kinerja maksimum pada setiap tahap, sedangkan eliminasi oleh aspek mencari kinerja yang memuaskan pada setiap tahap.
 Kompensasi Aturan Keputusan
Aturan keputusan kompensasi menyatakan bahwa merek yang tingkatan tertinggi pada jumlah konsumen penilaian dari kriteria evaluatif yang relevan akan dipilih.memiliki tingkat kinerja pada atau di dekat kompetisi pada pentingnya fitur lebih karena mereka menerima lebih berat dalam keputusan daripada atribut lainnya.